Memahami Konsep Ats-Tsawâbit dan al-Mutaghayyirât

19 Nov

Perbedaan pendapat di kalangan umat Islam memang dari masa ke masa tidak terhindarkan. Namun, bila kita telisih secara kritis, sebenarnya berakar dari pehamaman yang kurang proporsional dari mereka sendiri. Mereka – pada umumnya – tidak bisa memilih mana persoalan yang masuk yang masuk dalam ruang ats-Tsawâbit  dan mana  (persoalan yang masuk dalam ruyang)  al-Mutaghayyirât.

Untuk menjelaskannya, penulis meringkasnya sebagai berikut.

A. Definisi Ats-Tsawâbit dan al-Mutaghayyirât

Ats-Tsawâbit adalah masalah-masalah prinsip yang berdalil qath’i (mutlak dan pasti), baik qath’iyyuts-tsubût/wurûd  (kehujjahannya mutlak dan pasti serta tidak diperselisihkan di antara para ulama), maupun qath’iyyud-dilâlah (makna dan pengertiannya mutlak, pasti dan tidak diperdebatkan di antara para ulama.

Adapun al-mutaghayyirât, ia adalah hal-hal yang mungkin mengalami penggantian, perubahan, takwil, dan pengembangan. Dan perubahan di dalamnya bukanlah merupakan pelanggaran terhadap hal-hal pokok (ushûl) dan asasi. Ia merupakan hal yang fleksibel. Sebab, perubahan waktu dan tempat menuntut adanya fleksibilitas, adaptasi, dan respon, sembari tetap menjaga tsawabit. Allah SWT telah menitipkan dalam Islam ats-tsawâbit yang menjamin keberlangsungan dan al-mutaghayyirât yang menjamin kelaikan dan kesesuaian dengan segala kondisi dan situasi.

B. Dimensi Ats-Tsawâbit Wal Mutaghayyirât

Ruangan yang boleh menerima perubahan, pembaharuan dan ijtihad.
Ruangan ini amat luas sekali. Kebanyakan hukum syara’ dan urusan kehidupan dunia termasuk dalam ruangan ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w:
” أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ ”
صحيح مسلم عَنْ أَنَسٍ ـ مشكول وموافق للمطبوع – (7 / 95(

“Kamu lebih tahu tentang urusan dunia kamu”.

Begitu juga termasuk dalam ruangan ini ialah perkara-perkara yang tidak ada nashnya atau sekadar memunyai nash-nash umum dan nash-nash khusus yang boleh ditafsirkan dan difahami berdasarkan kaedah-kaedah ijtihad yang dimaklumi. Berikut adalah hal-hal yang bisa berubah :

•    Politik
•    Sosial
•    EkonomiPendidikan

Sedang ruangan ats-tsawâbit, ruangan ini bersifat tertutup, tidak boleh menerima pembaharuan,ijtihad dan perubahan dengan sembarangan. Termasuk dalam ruangan ini adalah perkara-perkara akidah, prinsip-rinsip umum, hukum-hukm qath’i (hokum yang jelas melalui dalil-dalil al-Quran dan al-Sunnah yang tidak boleh ditakwilkan lagi) yang menyatukan fikiran, perasaan dan sulûk (peradaban ummah). Ia adalah tonggak kepada kesatuan umat ini, oleh karena itu ia tidak boleh berubah berdasarkan zaman dan tempat. Seperti :

•    ‘Aqâid (masalah-masalah keimanan)
•    Ibadah (rukun Islam yang lima)
•    Nilai-nilai Moral [Akhlaq] (kumpulan pekerti yang utama seperti kejujuran, ihsan, keikhlasan, keberanian, dan sebagainya).

Andaikata  tidak ada ats-tsawâbit, maka niscaya kita akan mendapatkan banyak umat di dalam satu umat, banyak peradaban dalam peradaban Islam. Dan jadilah Islam bagaikan adonan yang dapat dibentuk setiap orang sekehendak hati masing-masing. Jadilah pada setiap masa ada persepsi khusus dan Islam khusus. Setiap negara mempunyai Islam tersendiri. Setiap jamaah mempunyai Islam sendiri. Dan kita tidak mempunyai satu Islam yang mempersatukan umat Islam yang menjadi pijakan peradaban, melainkan banyak Islam sebanyak jumlah penggalan masa, tempat, negeri, jamaah, bahasa, dan lapisan masyarakat. Jika demikian, maka akan tercapailah target musuh-musuh Islam. Mereka akan mengatakan kepada orang-orang, “Sesungguhnya al-Quran datang untuk hanya satu penggalan masa tertentu, yakni masa Rasulullah saw. Jadi Islam bukanlah agama yang abadi. Dan al-Quran bukanlah kitab yang diperuntukkan bagi seluruh manusia. Makanya Islam tidak mempunyai peradaban yang mapan.” Padahal sesungguhnya, risalah Islam datang untuk membimbing semua aspek kehidupan seluruh manusia sepanjang zaman, dan bukan hanya untuk umat tertentu saja. Para ulama menyatakan bahwa Spirit al-Quran ‘Abadi’, dan teksnya tak pernah akan berubah, tetapi tafsirnya ‘selalu dinamik’ selaras dengan dinamika zaman.

Secara garis besar, dapat kita katakan bahwa ats-tsawâbit dalam Islam adalah apa pun yang dijelaskan oleh Allah secara tekstual dan dengan cara yang tegas, yang tidak memberikan celah untuk berubah dengan beragam ijtihad (multi-interpretasi). Ia tidak berubah meskipun zaman, tempat, lingkungan, dan manusia berubah. Dan hukum-hukum yang bersifat ats-tsawâbit itu dijelaskan dengan rinci agar tidak mengundang perdebatan. Hukum-hukum itu dibangun di atas latar belakang yang tidak akan berubah sepanjang zaman.

Contoh ats-tsawâbit adalah wajibnya shalat, zakat, dan puasa; prinsip kewarisan yang telah menetapkan porsi para ahli waris, dan pada level implementasinya memberi ruangan ‘sulh (perdamaian)’; haramnya perbuatan fahsyâ’, baik yang tampak maupun yang tidak tampak, seperti: zina, menuduh orang lain berzina, minum minuman keras, memakan harta orang lain secara tidak sah, membunuh tanpa alasan yang dibenarkan, makan bangkai, makan daging babi; dan pokok akidah, masalah-masalah iman.

Demikian pula wajibnya melaksanakan apa yang Allah turunkan, wajib mengamalkan hadits shahih; wajibnya berperangai dengan akhlak mulia dan wajib meninggalkan akhlak tercela. Atau dengan kata lain, tsawabit adalah hukum-hukum yang dijelaskan oleh nash-nash al-Quran dan Sunah mutawatir yang qath’i (tegas, pasti) baik dari sisi tsubût (keabsahannya sebagai dalil) maupun dari sisi dalâlah (hukum yang dikandungnya). Baik hukum-hukum itu menyangkut hal yang aksiomatik dalam Islam, maupun hukum-hukum yang samar bagi sebagian orang seperti pembagian waris. Atau hukum yang merupakan ketentuan-ketentuan syar’i yang tidak ada celah untuk masuknya pendapat dan ditentukan oleh Sunnah Mutawâtirah, seperti bilangan rakaat dalam setiap shalat, waktu-waktu shalat, dan lain sebagainya. Di samping itu semua, masuk dalam kategori tsawabit adalah ijma’ (konsensus) yang bersifat eksplisit yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, dan tidak memperkenankan kita berijtihad. Bahkan, adalah kufur orang yang menentang hukum yang telah ditetapkan oleh ijma’ yang qath’i ini, bila hukum itu menurut satu dari tiga pendapat para ulama termasuk hal yang aksiomatik dalam Islam.

Karenanya, ats-tsawâbit ini adalah pemberi kata putus dan pembeda antara perilaku dan keyakinan pemeluk agama Islam dengan yang lainnya. Sebab ia merupakan akidah yang wajib diikuti oleh setiap orang. Maka siapa yang menolaknya adalah keluar dari Islam, berdasarkan kaedah-kaedah hukum syara’. Dan dengan itulah seorang mukmin dibedakan dari yang lainnya. Karenanya tidak boleh keluar dari lingkaran yang qath’i itu.

Berbeda halnya dengan hukum-hukum yang bersifat zhanni (asumtif), atau yang berubah-ubah, atau yang mempunyai multi penafsiran. Maka dalam hal ini siapa yang mengambil salah satu penafsirannya tetap berada dalam kawasan Islam dan tidak dianggap keluar Islam.

Al-Mutaghayyirât merupakan lahan berpikir, perenungan, dan ijtihad dalam bingkai tsawabit yang qath’i untuk akal. Sebab, mutaghayyirat bersifat zhanni. Maka siapa yang mengingkari pemahaman dari sebuah ayat yang memang dikandung oleh ayat itu – sebagaimana juga ayat itu mengandung pemahaman lain – maka ia tidaklah keluar dari Islam. Sebab, ia telah beriman kepada tsawabit yang bersifat qath’i dan tidak keluar darinya. Ia hanya menolak salah satu penafsiran dari hukum yang bersifat zhanni yang menjadi kawasan ijtihad. Setiap mujtahid boleh mengikuti apa yang dalam pandangannya lebih kuat. Jika ia memang berkompeten untuk melakukan ijtihad, maka para pengikutnya pun berada dalam kebenaran.

Jika semua dalil bersifat qath’i, itu sama saja dengan pembelengguan dan pembekuan akal manusia. Manusia akan hidup dalam kesempitan dan kesulitan. Kita akan tidak berdaya menghadapi berbagai problem yang senantiasa berkembang menuntut manusia untuk mengetahui hukumnya. Penyikapannya tidak mungkin dilakukan secara optimal, kecuali jika para mujtahid melakukan kajian terhadap nash yang bersifat zhanni dan mengambil kesimpulan hukum-hukum atas kasus-kasus baru itu darinya. Dengan demikian, syariat ini dapat berinteraksi dengan kepentingan manusia di segala tempat dan waktu. Bahkan, andai nash-nash itu semuanya bersifat qath’i niscaya akan ada orang berkata, “Mengapa nash-nash itu tidak fleksibel sehingga kita, di hadapannya, menjadi mesin yang tidak punya kemauan, pilihan, dan pemfungsian akal.

Oleh karena itu, perbedaan pandangan dalam masalah fiqih yang muncul sebagai buah dari ijtihad dalam mutaghayyirat tidaklah membahayakan. Bahkan, itu merupakan keleluasaan untuk umat dalam melakukan pilihan dan beramal. Mereka dapat  mengambil dari hukum-hukum itu apa yang dapat mewujudkan kemaslahatan bagi mereka dan sesuai dengan tuntutan kehidupan mereka, serta menghilangkan kesulitan dan kesempitan dari mereka. Bahkan perbedaan pandangan –- dalam hal al-mutaghiyyirât –- itu merupakan kekayaan agung perundang-undangan Islam dan pusaka fiqih yang indah. Ia mencakup segala kebutuhan manusia dalam naungan syariat Islam yang abadi selama kita memelihara hal yang qath’i dan baku.

Dalam hal ini ‘Umar Bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan, “Tidak membuat saya gembira jika para sahabat tidak berbeda pandangan. Sebab jika mereka bersepakat atas satu pendapat lalu ada orang yang berbeda dengan kesepakatan itu, maka ia adalah sesat. Sedangkan jika mereka berbeda pendapat, lalu ada orang yang mengambil pendapat ini dan yang lain mengambil pendapat itu, itu menunjukkan dalam hal itu ada keleluasaan.” Karenanya Imam Ahmad mengatakan, “Perbedaan pendapat itu merupakan keleluasaan.” Yahya Bin Sa’id mengatakan. “Orang yang berilmu adalah orang yang memiliki keleluasaan. Dan selagi para pemberi fatwa berbeda pendapat, yang satu menghalalkan ini dan yang lain mengharamkan itu, maka tidak boleh saling-mencela selama semua pihak berpegang pada tsawabit sedangkan ijtihad mereka terjadi dalam mutaghayyirat.”

C. Kesimpulan

Dari uraian makalah di atas kita melihat bahwa ats-tsawâbit adalah hal-hal yang pokok dalam agama dan adapun al-mutaghayyirât adalah hal-hal yang dinamis. Dua hal di atas saling berkaitan satu sama lain saling berhubungan erat sehingga Islam bisa bersifat dinamis sesuai dengan tuntutan zaman.

Kemajuan zaman yang pesat dan menuntut maka hal ini diakomodasi oleh agama sendiri sehingga adanya al-mutaghayyirat adalah salah satu solusi dari jawaban tersebut. Dalam ats-tsawâbit dapat dilihat bahwa terdapat kesatuan kaum muslimin – misalnya — dalam permasalahan aqidah dan prinsip ibadah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s